Minggu, 20 Desember 2009

Tugas Manajemen Keuangan

PAPER INI DITULIS DALAM RANGKA UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH MANAJEMEN KEUANGAN, DOSEN: DR.BUDI HERMANA
PADA PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN PERBANKAN
UNIVERSITAS GUNADARMA 2009






DITULIS OLEH:
NAMA : N U R J A N T O
NPM : 9 1 2 0 8 0 9 7
KELAS : 35 PB 2










ABSTRAKSI


NURJANTO SUKARNO ( Npm: 91208097, Kelas: 35 PB 2 )

“ ANALISIS PORTOFOLIO SAHAM BANK PEMERINTAH DI BURSA EFEK JAKARTA PERIODE JANUARI 2004 - JANUARI 2007”.

Paper. Tugas Mata Kuliah: Analisis Investasi dan Manajemen Resiko, Program Magister Manajemen Perbankan Universitas Gunadarma, Jakarta 2009.

Kata Kunci: Investasi, Portofolio, Saham, Bursa Efek, Return, Resiko Portofolio, Return Bebas Resiko, Sharpe Ratio, Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal.



Investasi pada hakekatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan dapat menghasilkan keuntungan di masa depan. Agar harapan tersebut tercapai, maka sebelum memasuki dunia investasi diperlukan pengetahuan di bidang investasi. Pengetahuan ini penting sebagai pegangan ketika akan memasuki dunia investasi yang penuh resiko dan ketidakpastian.

Modal dan pengetahuan belumlah cukup untuk membuat investasi berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Satu hal lain yang diperlukan adalah ketepatan dan strategi dalam pemilihan berbagai instrument investasi yang ada.

Paper ini dapat menjelaskan bagaimana membentuk portofolio saham Bank Pemerintah yang optimal di Bursa Efek Jakarta Periode Januari 2004 – Desember 2007, sehingga para investor akan memperoleh keuntungan yang maksimal, dan mengurangi kerugian dari dana yang diinvestasikan melalui instrument saham di Bursa Efek Jakarta.

Model yang digunakan dalam paper ini adalah model deskriptif analitis dengan jenis data kuantitatif. Instrumen analisis adalah studi kepustakaan dan studi internet. Obyek penulisan paper ini berupa tiga Saham Bank Pemerintah, yaitu Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BNI Tbk, dan bank BRI Tbk yang tercatat aktif di Bursa Efek Jakarta pada periode Januari 2004 – Desember 2007.

Analisis data yang digunakan dalam penulisan paper ini meliputi: menghitung expected Return, mencari resiko saham dan portofolio saham, Menghitung rata-rata tingkat pengembalian asset bebas resiko, Mencari sharpe ratio, dan Menentukan portofolio yang optimal





(DAFTAR PUSTAKA, 1998 – 2009)


KATA PENGANTAR



Dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan akademisi dan pembelajaran , setiap mahasiswa di Program Strata Dua - Magister Manajemen Universitas Gunadarma, Jakarta diwajibkan membuat suatu tugas mata kuliah. Salah satu bentuk tugas mata kuliah berupa Paper atau makalah.
Paper atau makalah adalah bentuk penulisan ilmiah berisi seputar kajian penelitian yang berhubungan dengan mata kuliah yang bersangkutan, atau yang berhubungan dengan hal-hal lain yang masih ada hubungannya dengan dunia akademisi, tujuan utamanya adalah mengasah kemampuan mahasiswa untuk menulis sehingga dapat meningkatkan pengetahuannya, disamping untuk menerapkan teori yang telah dipelajari.
Paper ini ditulis terutama ditujukan dalam rangka untuk memenuhi Tugas Mata Manajemen Keuangan, pada semester II, yang diampu oleh Bp. DR. Budi Hermana. Manfaat terpenting dari paper ini adalah sebagai sarana pencerahan dan pembelajaran terutama bagi diri Penulis sendiri, sehingga bisa meningkatkan wawasan dan pengetahuan.
Mungkin masih banyak kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam penulisan Paper ini sehingga saran dan masukan yang konstruktif sangat Penulis harapkan.


Bogor, 22 November 2009
Penulis

Nurjanto


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Perkembangan dan pertumbuhan industri serta dunia usaha membutuhkan dukungan di sector perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank. Pasar modal merupakan salah satu lembaga keuangan bukan bank yang dapat memperlancar pengelolaan aktiva financial. Pihak perusahaan memiliki kesempatan untuk memperolah tambahan dana dengan membuat perusahaannya menjadi perusahaan go public, sedangkan investor mempunyai kesempatan untuk ikut memiliki perusahaan dengan membeli saham-saham dari perusahaan yang sudah go public tersebut. Pasar modal merupakan salah satu wahana dan alternative dalam melakukan investasi.
Investor melakukan investasi di pasar modal dengan harapan akan mendapatkan keuntungan, berupa capital gain dan deviden. Capital gain terjadi bila harga jual saham lebih tinggi dibandingkan harga belinya. Sedangkan deviden adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham dan ditentukan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham berlangsung.
Investasi di pasar modal juga memiliki resiko, berupa kerugian yang tidak diprediksi sebelumnya. Ini adalah resiko didalam melakukan investasi. Keuntungan dan kerugian tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor dalam menganalisis harga saham dilihat dari factor internal, yakni keadaan perusahaan go public, dan factor eksternal, seperti tingkat inflasi, suku bunga, suhu politik, serta tingkat pertumbuhan ekoniomi suatu negara.
Setiap investor pada dasarnya memiliki sikap dan sifat rasional, dimana ada kecenderungan menghindari resiko (risk averter). dan menyukai resiko (risk seeker). Hal ini terlihat para investor menginginkan tambahan keuntungan lebih besar untuk setiap tingkat resiko yang dihadapi. Para investor tidak mengetahui secara pasti hasil apa yang akan diperoleh dari kegiatan investasinya, bahkan mereka tidak mengetahui dengan pasti jenis sekuritas mana yang akan dipilih untuk mengalokasikan dananya, dan berapa besar proporsi dana yang dialokasikan untuk mendapatkan tingkat keuntungan yang maksimal dengan resiko kerugian yang seminimal mungkin.
Strategi yang dapat dilakukan oleh para investor dalam melakukan investasi di pasar modal adalah dengan membentuk portofolio. Dengan strategi ini, maka kerugian dapat lebih tersebar karena kerugian pada salah satu saham yang dibeli dapat ditutupi oleh keuntungan pada saham lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut, maka Penulis mencoba untuk melakukan analisis mengenai masalah portofolio saham dalam bentuk Paper dengan mengambil judul, “ANALISIS PORTOFOLIO SAHAM BANK PEMERINTAH DI BURSA EFEK JAKARTA PERIODE JANUARI 2004 – DESEMBER 2007”.

I.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana membentuk portofolio saham Bank Pemerintah yang optimal di Bursa Efek Jakarta Periode Januari 2004 – Desember 2007.

2. Bagaimana agar para investor memperoleh keuntungan yang maksimal, dan mengurangi kerugian dari dana yang diinvestasikan melalui instrument saham di Bursa Efek Jakarta.

I.3. Batasan Masalah
Dalam Paper ini, Penulis membatasi masalah pada tiga saham bank milik Pemerintah, yaitu Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BNI Tbk, dan Bank BRI Tbk, periode Januari 2004 sampai dengan Desember 2007 di Bursa Efek Jakarta.
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah mencari tingkat pengembalian yang diharapkan (Expected Return), menghitung diviasi standart dari masing-masing saham, dan indeks pasar untuk mendapatkan resiko, menghitung rata-rata tingkat pengembalian asset bebas resiko, menghitung nilai sharpe Ratio tiap saham dan terakhir adalah Membentuk portofolio dari ketiga saham tersebut, dengan komposisi dan yang digunakan dari 10% sampai dengan 90%.

I.4. Tujuan
Tujuan Penulisan paper ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana membentuk portofolio saham Bank Pemerintah yang optimal di Bursa Efek Jakarta Periode Januari 2004 – Desember 2007.

2. Untuk mengetahui bagaimana para investor memperoleh keuntungan yang maksimal, dan mengurangi kerugian dari dana yang diinvestasikan melalui instrument saham di Bursa Efek Jakarta.

3. Sebagai proses pembelajaran, dan sekaligus penerapan dari Mata Kuliah Analisis Investasi, dan Manajemen Resiko Pada Program Magister Manajemen Perbankan Universitas Gunadarma, Jakarta.










BAB II
LANDASAN TEORI


II.1. Pengertian Portofolio
Menurut Sawidji Widoatmojo (2000:217), Portofolio merupakan investasi pada beberapa alat investasi, bisa sejenis, bisa juga tidak sejenis, yang tujuannya adalah menghindari resiko dan menghasilkan pendapatan sesuai dengan tujuannya.
Menurut Weston and Copelend (1992:366), Portofolio adalah ” A portfolio is defined as a combination of assets. Portfolio deals with the selection of optimal portfolio; that is, portfolio that provide the higgest possible return for any specified degree of risk or the lowest possible risk for anya specified rate of return”.
Portofolio menurut Jones (2002:3) adalah: “portfolio is the securities held by an investor taken at an unit”.
Pada intinya portofolio adalah suatu kegiatan investasi yang dilakukan pada lebih dari satu asset, dimana gabungan dari berbagai asset tersebut bertujuan mengurangi resiko dari investasi, tanpa mengurangi hasil atau keuntungan.

II.2. Portofolio yang efisien
Portofolio yang efisien adalah “efficient portfolio is a portfolio with the highest level of expected return for a given level of risk, or a portfolio with the lowest risk for a given level of expected return” (Jones, 2002:512).
Jadi, portofolio yang efisien dapat diartikan sebagai portofolio yang memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan pada tingkat optimal dengan suatu tingkat resiko tertentu, atau portofolio yang memberikan suatu tingkat resiko minimal, pada tingkat pengembalian yang diharapkan.



II.3. Portofolio yang optimal
Portofolio optimal adalah portofolio yang efisien yang memberikan manfaat maksimal bagi investor (Reilly 2000:278).
Menurut Fabozzi (1995:60), portofolio optimal “given choise of efficient portfolio from which an investor can select, an optimal portfolio is the one that is most preferred”.
Portofolio yang optimal adalah portofolio yang dipilih dan disukai oleh investor karena memberikan manfaat tertinggi, jadi dari berbagai portofolio yang efisien namun hanya ada satu portofolio yang optimal.

II.4. Pengertian dan Tujuan Investasi
Menurut Sharpe (1991), investasi diartikan dengan mengorbankan uang sekarang untuk uang dimasa yang akan datang dimana hasilnya baru akan diperoleh kemudian, dan besarnya tidak pasti.
Jadi investasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara menempatkan dana yang kita miliki pada berbagai laternatif pada saat sekarang, yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang akan diperoleh dimasa yang akan datang, dan hasil tersebut besarnya tidak pasti.
Tujuan dari kegiatan investasi yakni untuk meningkatkan kesejahteraan baik di saat sekarang, maupun pada masa yang akan datang. Seperti menurut Jones (2000:3) “We invest to improve our welfare, which for our purpose can be defined as monetary wealth, both current and future”.

II.5. Proses Investasi
Dalam melakukan investasi, terdapat serangkaian kegiatan investasi yang kita sebut sebagai proses investasi. Proses investasi adalah bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas, kapan kegiatan investasi seharusnya dilaksanakan, dan seberapa ekstensif kegiatan investasi sebaiknya dilakukan.
Menurut Sharpe (1999:9), ada 5 prosedur dalam membuat keputusan yang menjadi dasar proses investasi, yaitu:
1. Penentuan kebijakan investasi. Yang meliputi penentuan tujuan investor dan kemampuannya untuk dapat diinvestasikan. Disini meliputi penentuan risk and return, serta identifikasi kategori potensial dari asset financial untuk portofolio.
2. Analisis sekuritas. Meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual / atau beberapa kelompok sekuritas yang masuk ke dalam kategori asset yang telah diidentifikasi sebelumnya. Tujuannya untuk mengidentifikasi sekuritas yang salah harga (misprice). Ada dua pendekatan analisis sekuritas:
a. Analisis fundamental (fundamental analysis)
Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi prospek perusahaan untuk memperkirakan besarnya harga saham dimasa yang akan datang. Analasis ini percaya bahwa kesalahan dalam penentuan harga akan dikoreksi oleh pasar pada masa depan, yang artinya harga saham undervalue, akan mengalami kenaikan dan harga saham yang overvalue akan mengalami penurunan.
b. Analasis Teknik ( technical analysis)
Analisis ini meliputi, studi harga pasar saham dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa depan untuk saham perusahaan tertentu. Ada beberapa tahap dalam analisis ini, pertama harga saham di masa lalu dianalisis untuk menentukan trend atau pola pergerakan yang muncul, yang mirip dengan pola masa lalu. Pola sekarang yang cocok dengan masa lalu diharapkan akan terulang kembali. Jadi, dengan mengidentifikasi pola yang muncul, diharapkan dapat meramalkan dengan tepat gerakan harga pada masa yang akan datang untuk saham tersebut.
3. Konstruksi Portofolio
Yaitu mengidentifikasi asset mana yang akan dijadikan alternative investasi, juga menentukan berapa besar dana yang akan diinvestasikan pada asset tersebut. Disini perlunya perencanaan waktu, selektivitas dan diversifikasi yang perlu menjadi perhatian bagi para investor. Perencanaan waktu atau misforecasting, meliputi peramalan pergerakan harga saham biasa secara umum relative tetap, misalnya obligasi perusahaan. Selektivitas atau microforcasting, merujuk pada analisis sekuritas dan memfokuskan pada peramalan pergerakan harga tiap sekuritas. Diversifikasi, meliputi konstruksi portofolio investor sehingga meminimalkan resiko.
4. Revisi Portofolio
Proses ini merupakan pengulangan dari tiga langkah sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin merubah tujuan investasinya, yang pada gilirannya berarti portofolio yang dipegangnya tidak lagi optimal. Jadi, investor membentuk portofolio baru dengan menjual portofolio yang dimilikinya, dan membeli portofolio lain yang belum dimilikinya. Keputusan ini tergantung pada besarnya biaya transaksi untuk melakukan perubahan tersebut dan juga besarnya peningkatan pendapatan investasi portifolio yang baru.
5. Evaluasi Kinerja Portofolio
Meliputi penilaian kinerja portofolio secara periodik, baik aspek return yang diperoleh maupun resiko yang dihadapi.




II.6. Pengertian Saham
Saham menurut Dahlan Siamat (1999:216) adalah sebagai berikut, “saham adalah surat bukti, atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas”.
Menurut Sawidji Widoatmojo (2000:43), “ saham dapat didefinisikan secara sederhana sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan hokum dalam suatu perusahaan”.
Jones (2002:48) mendefinisikan saham, “stock is equity security representing the ownership interest in a corporation”.
Saham adalah suatu surat bukti yang menyatakan tanda kepemilikan seseorang didalam suatun perusahaan.

II.7. Keuntungan Saham
Menurut Jones (2002:124), keuntungan investor membeli saham ada dua, yaitu:

a. Deviden
Yaitu keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham atas keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Bentuk deviden yang dibagikan kepada pemegang saham ada dua, dividen saham dan deviden tunai. Deviden saham artinya setiap pemegang saham diberikan deviden berupa sejumolah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki akan bertambah. Deviden tunai artinya, setiap pemegang saham diberikan deviden berupa uang tunai dalam jumlah tertentu untuk setiap saham yang dimilikinya.


b. Capital Gain
Adalah selisih antara harga beli, dan harga jual suatu instrument investasi. Jika harga jual lebih besar dari harga beli, maka terjadi capital gain. Capital gain tersebut terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumnya investor dengan orientasi jangka panjang mengejar keuntungan melalui capital gain ini.


II.8. Pasar Modal
Pasar modal adalah suatu bidang usaha perdagangan surat-surat berharga, seperti saham, sertifikat saham, dan obligasi. Peranan pasar modal sebagai piranti untuk melakukan alokasi sumber daya ekonomi secara optimal.
Menurut Marzuki Usman (1989) pasar modal adalah pelengkap di sector keuangan terhadap dua lembaga lainnya, yaitu bank dan lembaga keuangan bukan bank. Pasar modal menjembatani antara pemilik modal / investor, dengan pihak yang membutuhkan dana / emiten.
Menurut DR. Siswanto Sudomo (1990), pasar modal adalah tempat diterbitkannya serta diperdagangkannya surat-surat berharga jangka panjang, khususnya saham dan obligasi. Definisi ini terdapat dua jenis pasar, yaitu pasar perdana, dan pasar sekunder. Pasar perdana, adalah dimana surat-surat berharga tersebut diterbitkannya pertama kali. Pasar sekunder, dimana surat-surat berharga tersebut diperdagangkan.
Menurur Keppres No. 52 tahun 1976 tentang pasar modal Bab I Pasal 1 disebutkan, “Pasar modal adalah bursa efek, seperti yang dimaksud dalam UU No. 15 tahun 1952. Jadi Pasar modal adalah bursa-bursa perdagangan di Indonesia yang didirikan untuk perdagangan uang dan efek. Bursa adalah gedung atau ruang yang ditetapkan sebagai kantor dan tempat kegiatan perdagangan efek. Sedangkan efek adalah setiap saham, obligasi, serta surat-surat berharga lainnya.

II.9. Bursa Efek
Menurut Suad Husnan (1998:9), yang dimaksud dengan bursa efek adalah lembaga yang menyelenggarakan perdagangan efek (saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya). Bursa efek merupakan perusahaan yang jasa utamanya adalah menyelenggarakan kegiatan perdagangan sekuritas di pasar sekunder.
Menurut J. Bogen (1997) bursa efek adalah suatu system yang terorganisir dengan mekanisme resmi untuk mempertemukan penjual dan pembeli efek secara langsung, atau melalui wakil-wakilnya.
Menurut UU No. 2 tahun 1992 tentang perdagangan efek, bursa efek adalah system atau sarana untuk mempertemukan order jual dan beli anggota bursa yang tercatat di bursa dengan tujuan memperdagangkan efek tesebut. Di Indonesia terdapat satu bursa efek, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI), yang merupakan gabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).
Menurut Suad Husnan (1998:2) Jenis-jenis sekuritas yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), adalah: saham biasa, saham preferen, obligaasi, obligasi konversi, sertifikat right dan waran.

II.10.Pengertian Return
Definisi return menurut Van Horne dan Wachowicz (1998:90) adalah, “Return can be defined as the income received on an investment plus any change in market price, usually expressed as a percent of the beginning market price of the investment”.
Menurut Jones (2002:124), Return saham terdiri dari:
a. Yield, yaitu cash flow atau arus kas yang dibayarkan secara periodik kepada pemegang saham, biasanya dalam bentuk deviden.
b. Capital gain, atau capital loss, yaitu selisih antara harga saham pada saat pembelian dengan harga saham pada saat penjualan. Capital gain jika harga saham pada akhir periode lebih tinggi dari harga awalnya, sedangkan capital loss, sebaliknya.

II.11.Expected Return
Definisi dari expected return menurut Haugen adalah: expected return merupakan apa yang akan diperoleh dari saham sebagai suatu tingkat pengembalian pada periode berikutnya yang berkisar dari return terndah hingga tertinggi kemudian dicari titik sentralnya.
Tingkat pengembalian yang diharapkan menurut Keown (1999) adalah,
“rata-rata tertimbang semua kemungkinan pengembalian dengan pengembalian ditimbang atas probabilitas terjadinya”.

II.12.Pengertian Kovarian
Kovarian, menurut Jones (2002:170) adalah, “covarian is an absolute measure of extent to which two variables tend to covary or moved together”.
Sedangkan nilai kovarian dalam hubungannya dengan koefisien korelasi adalah:
a. Positif, berarti return dari dua sekuritas cenderung untuk bergerak ke arah yang sama pada waktu yang bersamaan. Jika kovarian bernilai positif, maka korelasi juga bernilai positif.
b. Negatif, berarti return dari dua sekuritas cenderung untuk bergerak kea rah yang berlawanan pada waktu yang bersamaan. Jika satu sekuritas turun, yang lainnya akan naik, sebaliknya jika satu sekuritas naik, yang lainnya akan turun. Dan apabila kovarian bernilai negatif, maka korelasi juga bernilai negative.
c. Nol, berarti return dari kedua sekuritas adalah independent, tidak bergerak kea rah yang sama ataupun berlawanan arah.




II.13.Resiko
Pengertian Resiko menurut Keown (1999:216), resiko adalah kemungkinan-kemungkinan bahwa suatu pengembalian akan berbeda dari tingkat pengembalian yang diharapkan.
Menurut Jones (2002:134), ada dua tipe resiko, yaitu:
a. Resiko sistematik (systematic Risk)
Adalah resiko yang berkaitan dengan kondisi yang terjadi di pasar secara umum, yaitu resiko tingkat bunga, resiko politik, resiko inflasi, resiko nilai tukar, dan resiko pasar. Disebut pula resiko tidak diversifikasi.
b. Resiko non-sistematik (non-systematic risk)
Adalah resiko yang berkaitan dengan kondisi perusahaan yang terjadi secara individual, yakni resiko bisnis, resiko laverage, dan resiko likuiditas. Disebut pula resiko diversifikasi, resiko residual, resiko unik, atau resiko khusus perusahaan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa resiko adalah kemungkinan terjadinya suatu penyimpangan tingkat pengembalian yang nyata terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan.
Besarnya nilai resiko dapat dicari dengan menghitung standar deviasi, atau dengan menghitung besarnya varian. Standar Deviasi adalah ,”a statistical measure of the variability of a distribution around its mean. It is the square root of the variance,” Horne and Wachowizc (1998).
Resiko investasi pada saham, meliputi: Resiko saham Individu, dan Resiko investasi portofolio.




II.14.Pembentukan Portofolio yang efisien
Menurut Suad Husnan (1998) , cara pembentukan portofolio yang efisien adalah sebagai berikut:
a. Kombinasi dua sekuritas yang beresiko
b. Permukaan yang efisien apabila Short sales diperkenankan
c. Permukaan yang efisien apabila pemodal bisa menabung dan meminjam dengan suku bunga yang sama
d. Pemodal bisa menginvestasikan dananya pada risk free asset, tetapi tidak bisa meminjam pada riskless asset.
Tingkat pengurangan resiko karena pemodal melakukan diversifikasi tergantung pada koefisien korelasi antar tingkat keuntungan dari sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut. Semakin kecil koefisien korelasinya, semakin efektif pengurangan resikonya. Secara teoritis, dimungkinkan menghilangkan resiko suatu portofolio apabila koefisien korelasi sekuritas yang membentuk portofolio tersebut negative sempurna. Karena pada umumnya, koefisien korelasi bergerak diantara – 1 dan + 1, maka pembentukan portofolio akan menghasilkan kurve yang concave.

II.15. Penentuan Portofolio Yang Optimal
Didalam suatu kumpulan portofolio yang efisien, terdapat satu portofolio yang optimal, yaitu portofolio yang dapat memberikan keuntungan yang maksimal dengan resiko yang seminimal mungkin, Reilly (2000).
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan suatu portofolio agar dapat dikatakan optimal. Salah satunya adalah dengan menggunakan pendekatan Sharpe Ratio dan Treynor Ratio.
Kegunaan dari Sharpe Ratio adalah:
a. Mengukur return per unit dari total resiko yang diterimanya.
b. Semakin tinggi nilai Sharpe ratio, maka makin baik pula performa dari suatu portofolio, sehingga dapat dikatakan optimal.
c. Portofolio dapat diperingkatkan dari yang terbaik (Sahrpe Ratio besar) sampai yang terburuk (Sharpe Ratio kecil)

Dengan menggunakan rumus Sharpe tersebut, maka dapat dipilih saham-saham apa saja yang akan diportofoliokan. Demikian pula dalam hal menentukan berapa besar proporsi saham-saham dalam portofolio yang optimal. Sehingga dapat dikatakan bahwa portofolio yang memiliki nilai Sharpe Ratio tertinggi merupakan portofolio yang optimal.
Sedangkan metode Treynor Ratio adalah metode yang menggunakan pendekatan ratio antara excess return terhadapa beta. Yang dimaksud dengan excess return adalah kelebihan return suatu saham terhadap tingkat pengembalian dari aktiva bebas resiko.














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1. Obyek Penelitian
Dalam paper ini, obyek penelitian adalah saham yang termasuk kategori Bank Pemerintah dengan mengambil sample tiga Bank Pemerintah, yaitu Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BNI dan Bank BRI di Bursa Efek Jakarta dari periode bulan Januari 2004 sampai dengan Desember 2007.
III.2. Variabel Penelitian
Sedangkan data yang dipakai dalam penulisan Paper ini adalah:
1. Total nilai perdagangan, didapat dari hasil perkalian antara volume saham yang diperdagangankan denga harga pasar yang dibentuk oleh kekuatan penawaran, dan permintaan di pasar.
2. Harga penutupan dari tiga saham bank pemerintah di Bursa Efek Jakarta
3. IHSG digunakan untuk mengetahui tingkat pengembalian pasar
4. Suku Bunga SBI / sertifikat bank Indonesia, untuk menghitung tingkat pengembalian bebas resiko (risk free).

III.3. Teknik Analisis Data
Dalam melakukan analasis data, tahap-tahap yang dilakukan adalah:
1. Mencari tingkat pengembalian yang diharapkan (Expected Return).

n
∑ Rij
Rumus, E (Ri) = i = 1

N




2. Menghitung diviasi standart dari masing-masing saham, dan indeks pasar untuk mendapatkan resiko


n
∑ [ Rij – E ( Ri ) ]²
Rumus, σ² = j= 1
i

N - 1

3. Menghitung rata-rata tingkat pengembalian asset bebas resiko
n
∑ Rf
Rumus, Rf = i = 1

N

4. Menghitung nilai sharpe Ratio tiap saham

Rumus, R VAR = E (Ri) - Rf
σ i

5. Mengambil tiga saham yang mempunyai nilai Sharpe Ratio terbesar

6. Membentuk portofolio dari ketiga saham tersebut, dengan komposisi dan yang digunakan dari 10% sampai denga 90%.

7. Menghitung tingkat pengembalian portofolio
n
∑ Rf
Rumus,E (Rp) = i = 1

N




8. Menghitung Deviasi Standar dari portifolio yang ada

n n n
Rumus, σ² = ∑ Xi² σ² + ∑ ∑ Xi Xj. δ i j
i i=1 i i=1 i=1


9. Menghitung nilai Sharpe Ratio tiap portofolio

Rumus, R VAR ( p) = E (Rp) - Rf
σ ( p)

10. Menentukan portofolio yang optimal, yaitu yang mempunyai nilai Sharpe Ratio terbesar dari berbagai alternative portofolio yang telah dibentuk.



















BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

IV.1. Saham Bank Pemerintah di Bursa Efek Jakarta
Kategori saham Bank Pemerintah adalah kategori menurut kepemilikan saham, dimana saham bank tersebut sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah. Contoh Bank Pemerintah adalah Bank Mandiri (Persero)Tbk, Bank BNI Tbk, Bank BRI Tbk, Bank BTN Tbk, Bank BTPN Tbk, dan Bank Bukopin Tbk.
Dalam Penulisan paper ini, hanya mengambil tiga contoh saham Bank Pemerintah saja yaitu: Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BNI Tbk dan Bank BRI Tbk, pada periode Januari 2004 – Desember 2007.
TABEL 1:
Saham Bank Pemerintah di Bursa Efek Jakarta

KODE NAMA SAHAM
BMRI Bank Mandiri (Pesero) Tbk
BBNI Bank BNI Tbk
BBRI Bank BRI Tbk
Sumber: Bursa Efek Jakarta.


IV.2. Tingkat Pengembalian Masing-Masing Saham
Expected Rate Of Return saham adalah return yang diharapkan oleh investor yang melakukan investasi dalam kondisi yang tidak pasti. Berikut disajikan Expected Return dari tiga saham Bank Pemerintah .





Tabel 2:
Tingkat pengembalian Tahunan ( Expected Return) dari Saham PT. BANK MANDIRI, Tbk dan PT. BANK BNI, Tbk
Periode Tahun 2004 – 2007

Periode TAHUN Return / r Bank Mandiri Return / r Bank BNI Retur / r
Bank BRI
2007 80. 48 % 18. 21 % 70,91 %
2006 94. 15 % - 11.51 % 51,28
2005 - 10. 62 % - 7.27 % 28,2 %
2004 72. 04 % 38. 29 % 96 %
Rata – rata Return
2004 – 2007
IHSG = 34,58% 59,01 % 9, 43 % 61,60 %
Sumber: www.finance.yahoo.com, diolah

Tingkat pengembalian yang diharapkan / expected return paling besar adalah bank BRI sebesar 61,60 %, lalu bank Mandiri Sebesar 59,01 % dan terkecil Bank BNI sebesar 9, 43 % selama periode Januari 2004 – Desember 2007.

IV. 3. Tingkat Resiko Masing-Masing Saham
Untuk mengetahui Tingkat Resiko Masing-Masing Saham , maka dapat dicari dengan menggunakan nilai dari Standar Deviasi. Berikut Tingkat Resiko masing-masing saham.
Tabel 3:
Tingkat Resiko (Standar Deviasi) tiap Saham
Periode Januari 2004 – Desember 2007

No Kode Nama Saham Variance Standar Devisai
1 BMRI Bank Mandiri (Pesero) Tbk 2237,97 47,30 %
2 BBNI Bank BNI Tbk 539,18 23,22 %
3 BBRI Bank BRI Tbk 844,81 29,06 %
Sumber: Data diolah.


Dari tabel tersebut diatas dapat diketahui bahwa saham yang mempunyai resiko paling kecil adalah saham…Bank BNI, yaitu dengan Variance 539,18 % dan standar deviasi sebesar 23,22 %, sedangkan saham yang memiliki resiko paling besar adalah saham Bank Mandiri, dengan variance sebesar 2237,97%dan standar deviasi sebesar 47,39 %.


IV.4. Tingkat Pengembalian Investasi Bebas Resiko
Dalam melakukan suatu investasi, tingkat suku bunga SBI (sertifikat Bank Indonesia) juga perlu diperhitungkan sebagai tingkat pengembalian bebas resiko, atau risk free rate. Tingkat suku bunga SBI yang digunakan dalam penulisan paper ini berjangka waktu satu bulan.

TABEL 4:
Tingkat Suku Bunga SBI Dalam %


B U L A N T A H U N
2004 2005 2006 2007
Januari 7,86 7,42 12,75 9,50
Februari 7,48 7,43 12,74 9,25
Maret 7,42 7,44 12,73 9,00
April 7,33 7,62 12,74 9,00
Mei 7,32 7,88 12,58 8,80
Juni 7,34 8,10 12,50 8,56
Juli 7,36 8,48 12,31 8,31
Agustus 7,37 8,64 11,85 8,25
September 7,39 10,00 11,25 8,25
Oktober 7,41 11,00 10,91 8,25
November 7,41 12,25 10,35 8,25
Desember 7,43 12,75 9,88 8,25
Total 89,12 109,01 142,59 103,67
Sumber: www.bi.go.id, diolah sendiri.
Rata-Rata Risk Free Rate ( Rf ) per tahun = 9, 36 %

Rata-rata Risk free rate per tahun sebesar 9,36 %, artinya jka investor menanamkan dananya pada tingkat suku bunga SBI berjangka waktu satu bulan, maka secara rata- rata investor tersebut akan memperoleh bunga sebesar 9,36 % per tahun.



IV.5. Sharpe Ratio Masing-Masing Saham
Untuk melakukan analisis pembentukan portofolio yang optimal, Penulis menggunakan metode Sharpe Ratio. Sharpe Ratio adalah mengukur tingkat kelebihan return saham untuk satu unit total resiko yang akan diterimanya. Komponen yang akan diperlukan dalam menghitung Sharpe Ratio adalah return saham, risk free, dan resiko saham.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan peringkat tiap saham berdasarkan pada besarnya nilai Sharpe Ratio nya dari yang besar sampai yang kecil.
Tabel 5:
Peringkat Saham Berdasarkan Pada Sharpe Ratio

No Kode Nama Saham Sharpe Ratio Peringkat
1 BMRI Bank Mandiri (Pesero) Tbk 1,0497 2
2 BBNI Bank BNI Tbk 0,0005 3
3 BBRI Bank BRI Tbk 1,7977 1
Sumber: Data diolah sendiri.

Berdasarkan Sharpe Ratio tersebut, maka investasi saham bank Pemerintah ditujukan berdasarkan pada urutan peringkat, yaitu:
1. Pada peringkat pertama, investasi saham Bank BRI Tbk, (Sharpe ratio 1,7977)
2. Lalu peringkat kedua yaitu Bank Mandiri (Persero) Tbk,(Sharpe ratio 1,0497)
3. Terakhir, peringkat ketiga yaitu Bank BNI Tbk, (Sharpe ratio 0,005)
Berdasarkan peringkat tersebut, maka dapat membentuk komposisi portofolio tiga saham tersebut dari 10 % sampai dengan 90 %. Tabel 6, menyajikan komposisi portofolio dari tiga saham Bank Pemerintah.

Tabel 6:
Portofolio Antara Saham Bank BRI Tbk, Saham Bank Mandiri (Persero) Tbk dan saham Bank BNI Tbk.

Portofolio Komposisi
BBRI Komposisi
BMRI Komposisi
BBNI Return
Portofolio Resiko
Portofolio
1. 90 % 10 % 0 % 61,60 % 167,89%
2. 80 % 10 % 10% 59,27% 162,17%
3. 70 % 20 % 10% 55,86 % 158,65%
4. 60 % 20 % 20% 48,76% 146,17%
5. 50 % 30 % 20% 58,62 % 159,06%
6. 40 % 30 % 30% 59,38 % 160,25%
7. 30 % 40 % 30% 39,01 % 138,53%
8. 20 % 40% 40% 36,67% 135,37%
9. 10 % 50% 40% 49,68 % 146,56%
10. 90 % 0% 10% 58,79 % 161,09%
11. 80 % 10% 10% 57,17% 156,10%
12. 70 % 10% 20% 56,32 % 152,87%
13. 60% 20% 20% 54,54 % 158,23%
14. 50% 30% 20% 46 75 % 148,97%
15. 40% 30% 30% 45,19% 146,27%
16. 30% 40% 30% 43,60 % 142,15%
17. 20% 40% 40% 35,27% 132,45%
18. 10% 40% 50% 32,09% 129,90%
19. 10% 90% 0% 59,27% 160,35%
20. 10% 80% 10% 56,90 % 156,45%
21. 20% 70% 10% 47,87% 150,76%
22. 20% 60% 20% 43,60 % 148,65%
23. 30% 50% 20% 35,21 % 132,29%
24. 30% 40% 30% 42,60 % 140,17%
25. 40% 30% 30% 36,35 % 135,28%
26. 40% 20% 40% 38,61 % 136,67%
27. 50% 10% 40% 35,87 % 133,02%
28. 0% 90% 10% 53,86 % 154,35%
29. 10% 80% 10% 55,21 % 157,89%
30. 10% 70% 20% 51,35% 148,90%
31. 20% 60% 20% 47,16 % 159,24%
32. 20% 50% 30% 40,03 % 145,25%
33. 30% 40% 30% 43,60 % 142,45%
34. 30% 30% 40% 36,78% 137,69%
35. 40% 20% 40% 38,54 % 140,47%
36. 40% 10% 50% 32,67 % 133,11%
37. 10% 0% 90% 15,23 % 118,90%
38. 10% 10% 80% 17,87 % 122,27%
39. 20% 10% 70% 18,98 % 124,56%
40. 20% 20% 60% 21,07 % 132,87%
41. 30% 20% 50% 28,98 % 134,64%
42. 30% 30% 40% 32,34 % 138,26%
43. 40% 30% 30% 42,76 % 142,67%
44. 40% 40% 20% 48,34 % 148,89%
45. 50% 50% 0% 59,60 % 163,67%
46. 0% 10% 90% 14,39% 116,87%
47. 10% 10% 80% 15,73 % 118,12%
48. 10% 20% 70% 16,34 % 120,25%
49. 20% 20% 60% 17,78 % 122,67%
50. 20% 30% 50% 24,46 % 130,23%
51. 30% 30% 40% 46,92 % 156,24%
52. 30% 40% 30% 49,56 % 153,26%
53. 40% 40% 20% 53,14 % 156,36%
54. 40% 50% 10% 54,16% 158,87%
Sumber: data diolah sendiri.

Berdasarkan pada tabel diatas, maka dapat disimpulkan bahwa portofolio pertama, dengan komposisi 90 % saham Bank BRI, dan 10 % saham Bank Mandiri (Persero) Tbk, serta 0 % pada Bank BNI Tbk. memberikan Return portofolio yang tertinggi, yaitu sebesar 61,60 %. Sedangkan portofolio yang ke-46 memberikan return portofolio terendah, yaitu hanya sebesar 14,39 %.













BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan dan hasil analisis, maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Portofolio saham bank Pemerintah yang optimal adalah portofolio dengan urutan sebagai berikut, pertama pada saham Bank BRI Tbk, kedua pada saham Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan terakhir pada Bank BNI Tbk.
2. Nilai portofolio yang optimal adalah dengan komposisi sebagai berikut:
• 90 % saham Bank BRI Tbk
• 10 % Saham Bank Mandiri (Persero) tbk
• 0 % Saham Bank BNI Tbk
Portofolio tersebut menghasilkan nilai;
• Return terbesar, yaitu 61,60 %.
3. Hasil analisis ini bermanfaat bagi para investor bila ingin menanmnkan dananya pada instrument saham bank Pemerintah tersebut, atau paling tidak sebagai acuan dan pedoman didalam melakukan investasi saham di pasar modal.









DAFTAR PUSTAKA

Christian W (2003), Jurnal Penelitian. Penilaian Kinerja Reksa Dana Saham di Indonesia periode 2000 – 20002.


Dahlan, Siamat (1999), Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi 2, Jakarta, Penerbit: Lembaga Penerbit FE-UI.

Ekastuti, Zaidatun dan Sudarsono (2009), Analisis Portofolio Tiga Saham Teraktif di Bursa Efek Jakarta Periode Januari 2002 – Desember 2004. Jurnal Penelitian Univ. Gunadarma.

Jogiyanto (1998), Teori Portofolio dan Analisis Investasi, edisi pertama, Yogyakarta, BPFE.


Jones, Charles P (2002), Investment: Analysis And Management, 7th ed, New York: Jon Willy and Sons.

Sharpe, et al. (1999), Investment, 6th ed, New Jersey. Prentice Hall.




















Lampiran:



1. TABEL 1: Tingkat Pengembalian / Return ( r ) Bulanan Saham BANK MANDIRI Periode Desember 2007 – Januari 2004

TANGGAL Return / r Return / r Per Tahun

03 / 12 / 2007 - 0.0278




80.48 %
01 / 11 / 2007 0.0780
01 / 10 / 2007 0.0709
03 / 9 / 2007 0.0846
01 / 8 / 2007 0.0647
02 / 7 / 2007 0.1280
04 / 6 / 2007 - 0.458
01 / 5 / 2007 0.0569
02 / 4 / 2007 0.2300
01 / 3 / 2007 0.0638
01 / 2 / 2007 - 0.0106
02 / 1 / 2007 0.1121

03 / 12 / 2006 0.0450




94. 15 %
01 / 11 / 2006 0.0183
01 / 10 / 2006 0.1720
03 / 9 / 2006 0.1071
01 / 8 / 2006 0.1932
02 / 7 / 2006 0.0233
04 / 6 / 2006 0.0058
01 / 5 / 2006 - 0.1152
02 / 4 / 2006 0.1360
01 / 3 / 2006 0.0807
01 / 2 / 2006 0.0899
02 / 1 / 2006 0.0854

03 / 12 / 2005 0.2519



- 10.62
01 / 11 / 2005 -0.0300
01 / 10 / 2005 -0.0704
03 / 9 / 2005 0.0741
01 / 8 / 2005 -0.1704
02 / 7 / 2005 0.0733
04 / 6 / 2005 -0.0909
01 / 5 / 2005 0.0375
02 / 4 / 2005 -0.0643
01 / 3 / 2005 -0.0552
01 / 2 / 2005 -0.0670
02 / 1 / 2005 0.0052

03 / 12 / 2004 0.0405




72.04 %
01 / 11 / 2004 0.1587
01 / 10 / 2004 0.1053
03 / 9 / 2004 0.1200
01 / 8 / 2004 0.0204
02 / 7 / 2004 0.0425
04 / 6 / 2004 -0.0600
01 / 5 / 2004 -0.1209
02 / 4 / 2004 0.0545
01 / 3 / 2004 -0.0175
01 / 2 / 2004 0.0769
02 / 1 / 2004 0.3000



2. Tabel 2: Tingkat Pengembalian / Return ( r ) Bulanan Saham BANK BNI Periode Desember 2007 – Januari 2004

TANGGAL Return / r Return / r Per Tahun
03 / 12 / 2007 0.0591




18. 21 %





01 / 11 / 2007 -0.0800
01 / 10 / 2007 0.0050
03 / 9 / 2007 0.0026
01 / 8 / 2007 -0.1702
02 / 7 / 2007 -0.0100
04 / 6 / 2007 -0.0198
01 / 5 / 2007 0.1364
02 / 4 / 2007 0.2429
01 / 3 / 2007 0.0173
01 / 2 / 2007 -0.0331
02 / 1 / 2007 0.0319

03 / 12 / 2006 -0.0556



- 11. 55 %

01 / 11 / 2006 -0.1663
01 / 10 / 2006 -0.0206
03 / 9 / 2006 0.0417
01 / 8 / 2006 0.1910
02 / 7 / 2006 0
04 / 6 / 2006 -0.0738
01 / 5 / 2006 -0.0896
02 / 4 / 2006 0.0625
01 / 3 / 2006 0.0407
01 / 2 / 2006 -0.0611
02 / 1 / 2006 0.0156

03 / 12 / 2005 0.0756




- 7. 27 %
01 / 11 / 2005 -0.0556
01 / 10 / 2005 -0.1192
03 / 9 / 2005 0.1387
01 / 8 / 2005 -0.1585
02 / 7 / 2005 -0.0353
04 / 6 / 2005 0.0120
01 / 5 / 2005 0.0633
02 / 4 / 2005 -0.0175
01 / 3 / 2005 0.0238
01 / 2 / 2005 0.0120
02 / 1 / 2005 -0.0120

03 / 12 / 2004 0.0308




38. 29 %
01 / 11 / 2004 0.2264
01 / 10 / 2004 0.0385
03 / 9 / 2004 0.1556
01 / 8 / 2004 0.0465
02 / 7 / 2004 0
04 / 6 / 2004 0
01 / 5 / 2004 -0.1730
02 / 4 / 2004 0.0667
01 / 3 / 2004 -0.0080
01 / 2 / 2004 -0.0196
02 / 1 / 2004 0.0192
Sumber: www.finance.yahoo.com, diolah


3. Tabel 3: Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Bulanan Periode Januari 2004 - Desember 2007.
Tingkat Suku Bunga SBI Dalam %


B U L A N T A H U N
2004 2005 2006 2007
Januari 7,86 7,42 12,75 9,50
Februari 7,48 7,43 12,74 9,25
Maret 7,42 7,44 12,73 9,00
April 7,33 7,62 12,74 9,00
Mei 7,32 7,88 12,58 8,80
Juni 7,34 8,10 12,50 8,56
Juli 7,36 8,48 12,31 8,31
Agustus 7,37 8,64 11,85 8,25
September 7,39 10,00 11,25 8,25
Oktober 7,41 11,00 10,91 8,25
November 7,41 12,25 10,35 8,25
Desember 7,43 12,75 9,88 8,25
Total 89,12 109,01 142,59 103,67
Sumber: www.bi.go.id, diolah sendiri.

1 komentar:

  1. makasih mas atas postingannya,kebetulan skripsi saya juga bahas ttg sharpe method..
    smn saya bingung,gimana nyari standar deviasi klu expected returnnya nilainya negatif...buat nya sd kan harus diakar kan...

    mohon tanggapannya mas...makasah sblmny...

    BalasHapus